KARYA
ILMIAH
BUDAYA TARIAN LOKAL
ADAT SUNDA
Oleh
:
TRIANISA
MAYANGSARI
11520060
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
DEPOK
TAHUN
AJARAN 2020/2021
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur saya panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat menyusun tulisan ilmiah ini dengan
baik dan tepat pada waktunya. Dalam tulisan ilmiah ini saya akan membahas
mengenai budaya tarian lokal yang ada di daerah saya yaitu budaya sunda.
Tulisan
ilmiah ini saya buat dengan berbagai sumber informasi untuk membantu
menyelesikan tantangan dan hambatan selama saya mengerjakan tugas ini. Oleh
karea itu, saya mengucapkan terimakasih kepada sumber-sumber informasi yang
telah membantu saya dalam menyusun karya ilmiah ini.
Saya
juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada tulisan ilmiah
ini. Dimohon kemaklumannya, dan semoga tulisan ilmiah ini dapat memberikan
manfaat bagi para pembaca maupun saya.
Tangerang
Selatan, 12 November 2020
TRIANISA
MAYANGSARI
i
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................
i
DAFTAR ISI.........................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN..................................................................................
1
1.1 Latar
Belakang...................................................................................
1
1.2 Rumusan
Masalah..............................................................................
1
1.3 Tujuan
Penulisan................................................................................
2
1.4 Manfaat
Penulisan.............................................................................
2
BAB II
PEMBAHASAN....................................................................................
3
2.1 Macam-macam Tari Tradisionl Sunda............................................
3
2.2 Makna-makna yang Terkandung.....................................................
6
2.3 Upaya Membuat Generasi Mendatang Lebih Mengenai
dan Tertarik dengan Seni Tradisional ............................................
7
BAB III PENUTUP.............................................................................................
8
3.1 Kesimpulan.........................................................................................
8
DAFTAR
PUSTAKA...........................................................................................
8
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Republik Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan adat istiadat. Indonesia terdiri dari 33 provinsi juga terdiri dari belasan ribu pulau dengan jumlah populasi yang saat ini mencapai 260 juta penduduk. Tidak hanya terdapat banyak penduduk, negara kita juga sangat kaya akan kebudayaan dan kearifan lokal di masing-masing daerah, dengan kata lain terdapat banyak sekali suku, budaya, dan adat istiadatnya. Kebudayaan daerah memiliki berbagai macam bentuk. Hasil kebudayaan paling terkenal dan mudah dikenali sebagai ciri khas satu kebudayaan adalah tarian tradisional.
Jawa Barat merupakan provinsi di Indonesia yang
masih sangat menjaga berbagai tarian khas yang dimilikinya.
Salah satunya adalah budaya Sunda
yang ada di kabupaten Bandung. Budaya Sunda merupakan budaya yang ada di daerah sunda dan salah
satu budaya yang berpengaruh bagi perkembangan budaya di Indonesia. Namun maraknya kasus pencurian kebudayaan
mengingatkan kita sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang cinta Tanah Air untuk
melestarikan semua kebudayaan yang original.
Sunda memiliki beberapa tari tradisional, walau
sayangnya cukup banyak generasi penerus yang masih belum mengenalinya.
Seharusnya sebagai generasi penerus kita dapat mengenali dan menjaga tarian
tradisional yang ada agar tidak hilang. Dan dalam tulisan ilmiah ini saya akan lebih
memfokuskan ke arah kesenian, khusunya seni tari tradisional yang ada di daerah
Sunda. Guna meningkatkan pemahaman kita akan seni tari yang ada di daerah Sunda.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Ø
Apa saja tari tradisional yang ada di Bandung?
Ø
Apa makna dan dari tarian-tarian tersebut?
Ø
Bagaimana upaya membuat generasi mendatang lebih mengenal
dan tertarik pada seni tradisional?
1
1.3 TUJUAN PENULISAN
Ø
Mengetahui apa saja tari tradisional yang ada di Bandung.
Ø
Mengetahui apa makna dari tarian-tarian tersebut.
Ø
Mengetahui bagaimana upaya membuat generasi
mendatang lebih mengenal dan tertarik dengan seni tradisional.
1.4 MANFAAT PENULISAN
Ø
Mendapat banyak ilmu dan pengetahuan baru.
Ø
Untuk mengetahui tari tradisional apa saja yang
ada di Bandung.
Ø
Memahami makna yang ada di setiap tarian.
Ø
Membuat generasi mendatang lebih mengenal dan
tertarik dengan seni tradisional.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MACAM-MACAM TARI TRADISIONAL
SUNDA
Bandung sejauh ini memiliki cukup banyak
tari tradisional, berikut ini akan saya paparkan beberapa tari yang menurut
saya cukup menarik.
1. Tari Ketuk Tilu
Tari Ketuk Tilu berasal dari Sunda, Jawa Barat. Kata tilu kalau diartikan ke bahasa Indonesia artinya tiga. Menurut sejarahnya ada kemungkinan nama ketuk tilu diambil karena iringan musik untuk tari ini mengeluarkan 3 suara. Tari Tekuk Tilu ternyata merupakan tarian yang menjadi cikal bakal dari Tari Jaipong.
Dahulunya, tarian ini dipentaskan sebagai
penyambutan datangnya masa panen dengan tujuan ungkapan rasa syukur pada Dewi
Sri. Namun seiring dengan zaman, tarian ini bersifat hanya hiburan saja. Biasanya
penarinya berpasangan namun terkadang juga solo dancer, dalam geraka tari Jaipong selalu
menggunakan gerakan goyang, muncid, geol, gitak, dan pencak.
Kostum yang digunakan untuk pria adalah baju kampret,
celana pengsi dengan atribut golok. Sedangkan untuk wanita, menggunakan kebaya
dan sinjang dilengkapi selendang dan beberapa atribut seperti gelung, sabuk,
dan kalung. Musik pengiringnya adalah gong, kecrek, kulanter, rebab,
kempul dan kendang besar.
2. Tari Jaipong
Jaipong berasal dari Sunda, diciptakan oleh Gugum Gumbira. Tarian ini sangat dilestarikan oleh orang-orang yang mencintai budayanya, sampai-sampai dibuka komunitas penari Jaipong. Tarian ini menjadi salah satu tarian khas Jawa Barat dan dipentaskan bila ada acara-acara pemerintahan, dan ketika acara pernikahan.
Dulu gerakan tarian ini membuat kontroversi karena mengedepankan gerakan erotis dan keindahan dalam berlenggak lenggok. Terlebih saat tahun 1980, tari Jaipong sempat disiarkan disalah satu chanel TV dan membuat tarian tersebut dikenal masyarakat luas.
3
Bagusnya, Tari Jaipong telah diakui oleh berbagai negara,
negara Indonesia pun pasti bangga. Saya berharap para seniman generasi penerus
dapat mempertahankan kesenian tradisional dan menggali seni lebih dalam lagi.
Kalau difikir-fikir, bila saja tarian ini dikombinasikan dengan gerakan modern,
maka akan lebih bagus hasilnya. Tetap ada unsur tradisional, namun mengikuti perkembangan
zaman. Bisa kita ambil contoh penari tradisional modern Sandrina.
3. Tari Keurseus
Tari Keurseus berasal dari tanah Sunda, kata ‘keurseus’ itu sendiri berasal dari bahasa Belanda yang artinya kursus. Tarian ini dari seniman asal Cirebon. Awalnya tarian ini ditarikan oleh 2 orang yaitu Bapak Kontjer dan Bapak Wentar, diluar dugaan tarian ini disenangi oleh masyarakat, maka banyak orang yang ingin belajar tarian ini. Hingga sekarang, peminat tari Keurseus adalah pria.
Tari Keurseus pun dibagi menjadi 3 jenis
yaitu tari gawil, kawiran dan lenyepan. Gerakan tarian keurseus hampir mirip
dengan gerakan tari Tayuban. Tapi dalam 3 jenis itu, masing-masing jenis
memiliki karakteristik masing-masing.
Pakaian yang digunakan adalah pakaian
menak atau pakaian tradisional seperti baju takwa, dilengkapi sinjang bermotif
batik. Biasanya dilengkapi dengan tutup kepala seperti bendo citak, dengan
membawa keris sebagai aksesoris dipinggang. Seiring dengan zaman
tari ini terus dikembangkan sehingga mengandung beberapa karakter yang berbeda.
4.
Tari Gapura Hyang
Gapura Hyang merupakan tari persembahan khas Kabupaten Bandung Barat, menceritakan sebuah legenda Dayang Sumbi dalam sasakala Tangkuban Perahu. Legenda seorang ibu yang arif dan bijaksana tatkala menghadapi angkara sang buah hati, Sangkuriang.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten
Bandung Barat melaksanakan program kerja bersama Institut Seni dan Budaya Indonesia
(ISBI) Bandung dalam mewujudkan sebuah karya Seni Tari Persembahan khas
Kabupaten Bandung Barat.
4
5.
Tari Kamonesan
Hajat Cai
Tari Kamenasan Hajat Cai atau Aneka Seni Syukuran Air ini mencoba menggali dan memadukan upacara Ngalokat Cai atau Nyalametkeun Solokan dengan kesenian Sasapian dari daerah Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
Pertunjukan kesenian Sasapian dipertunjukkan oleh sejumlah
penari dan diiringi oleh musik tradisional Sunda dengan menggunakan instrumen
kendang, terompet dan gong. Tarian ini bermaksud untuk mengungkapkan rasa syukur
kepada Yang Maha Kuasa, karena telah memberikan air yang berlimpah dan tanaman
padi serta tanaman bunga yang tumbuh subur.
6.
Tari Ngajayak Topeng Kemprung Tarung Adu Tomat
Ngajayak Topeng Kemprung Tarung Adu Tomat merupakan tarian persembahan sebelum digelarnya perang tomat untuk memberikan topeng kepada para ksatria yang siap berlaga adu tomat. Tarung adu Tomat diselenggarakan di Kampung Cikareumbi Desa Cikidang-Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Tomat yang dipakai
untuk perang adalah bentuk pengorbanan warga sebagai rasa syukur atas hasil
panen yang didapat. Selain bentuk rasa syukur, perang tomat adalah sebuah
bentuk ungkapan membuang sial dari segala macam hal buruk atau sifat yang tidak
baik, tidak hanya dalam diri masyarakat, tetapi juga dalam tanaman.
7. Tari Rampak Gendang/Kendang
Tari rampak gendang merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. "Rampak" berasal dari bahasa sunda yang bermakna serempak atau secara bersama-sama, jadi rampak gendang bisa diartikan sebagai suatu pertunjukkan gendang yang dimainkan secara bersama-sama.
Pemain musiknya tidak
lain penari yang naik ke atas pentas. Biasanya tarian ini dimainkan oleh dua
orang lebih. Membutuhka keselarasan gerakan dan tekanan pemukulan gendangyang
sama saat menabuh. Tarian ini juga terkadang diiringi alat musik lain seperti
gitar dan rebab.
5
2.2
MAKNA-MAKNA YANG TERKANDUNG
Setiap tarian yang ada pastilah memiliki makna masing-masing
yang ingin disampaikan oleh sang pencipta tarian. Dari mulai hingga ungkapan rasa syukur. Berikut adalah
makna-maknanya.
1. Makna Tari
Ketuk Tilu
Tari Ketuk Tilu memiliki makna kegembiraan untuk menyambut panen padi sebagai rasa terima
kasih kepada Dewi Sri. Upacara ini dilakukan pada waktu malam hari.
2. Makna Tari Jaipong
Makna yang terkandung dalam Tari Jaipong adalah
merepresentasikan wanita sunda yang memiliki sifat energik, ramah, berani,
pantang untuk menyerah, lincah, mandiri, bertanggung jawab, genit namun santun. Jaipong disebut hadir sebagai penolakan
atas stereotip lawas yang menyebutkan wanita sunda pada umumnya malas, tidak
mandiri, mudah menyerah dan lain sebagainya.
3. Makna Tari Keurseus
Makna tari Keurseus adalah tantang keindahan. Tarian ini
memiliki gerak tari yang tidak berpola khusus sehingga setiap penari bebas
menarikan gerakan yang diinginkan.
4. Makna Tari Gapura Hyang
Tari Gapura Hyang memilik
makna sebagai suatu persembahan atas legenda seorang ibu yang arif dan bijaksana
saat menghadapi angkara sang buah hati. Dengan gerakan yang anggun dan lemah lembut
sebagaimana menggambarkan sosok seorang ibu.
5. Makna Tari Kamonesan
Hajat Cai
Tari Kamonesan Hajat Cai ini memiliki makna sebagai tarian
syukur atas air yang telah didapat setelah mencoba menyelamatkan selokan atau parit.
6. Makna Tari Ngajayak Topeng Kemprung Tarung Adu Tomat
Memiliki
makna sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah, selain itu
juga memiliki makna sebagai ungkapan untuk membuang sial dari segala macam hal
buruk atau sifat yang tidak baik yang tidak hanya dalam diri masyarakat tetapi
juga dalam tanaman.
7. Makna Tari Rampak Gendang/Kendang
Tari Rampak Gendang memiliki makna filosofis di dalamnya.
Kesenian ini mencerminkan masyarakat sunda yang harmonis yang berlandaskan
sifat-sifat bergotong-royong dan kecerian.
6
2.3 upaya membuat generasi mendatang lebih mengenal
dan
tertarik dengan seni tradisional
Di jaman sekarang dimana
kemajuan teknologi telah demikian pesat, tidak seharusnya kita lalai dengan peninggalan-peninggalan
bersejarah tersebut, karena muatan-muatan nilai luhur bangsa Indonesia tersimpan
di setiap karya-karya itu.
Kemajuan teknologi internet
dengan kemampuannya menembus batas-batas geografis, bahkan seakan dunia tak
berjarak, bukanlah penghalang untuk tetap mewariskan budaya-budaya kita sendiri.
Ini adalah tantangan kita bersama. Maka jika kita lalai akan budaya sendiri,
sama saja kita mencabut akar dari budaya Indonesia, yang akan melahirkan budaya
tidak beridentitas, bahkan akan terjebak pada euforia buadaya asing yang tidak
jelas arahnya.
Di sini perlu ditekankan
pula bahwa mencintai budaya bangsa bukanlah hal yang lantas dikatakan kuno dan
ketinggalan jaman. Justru mencintai diri sendiri kebudayaan sendiri adalah
kekuatan untuk mendobrak budaya asing yang akan masuk ke Indonesia.
Berikut
adalah upaya membuat generasi mendatang lebih mengenal dan tertarik dengan seni
tradisional :
1. Melalui
Cara Formal
Yaitu
dengan cara mewujudkan suatu masyarakat yang mempunyai integrasi yang tinggi,
yang dapat diwujudkan dengan :
a. Menerapkan
pendidikan multikultural
-
Mengembangkan sikap perhatian
terhadap kebudayaan atau tradisis daerahnya sendiri.
-
Meninggalkan sifat acuh
tak acuh terhadap tradisi sendiri.
-
Menanamkan kepercayaan
dan toleransi.
-
Mengembangkan kesadaran
sosial dan peranan individu.
b. Membina
hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan
-
Mendorong asimilasi dan
kawin campur antara masyarakat sekitar dengan keluarga kraton.
-
Meningkatkan emansipasi
wanita dalam berbagai kesenian.
2. Melalui
Cara Informal
a. Pendekatan
generasi muda terhadap tradisi dengan cara :
-
Suka atau sering menonton
acara-acara kesenian.
-
Mendalami sejarah/cikal
bakal tradisi kesenian.
-
Ikut berpartisispasi
dalam pelestarian seni semisal mengadakan Festifal Budaya.
-
Mengajarkan kebudayaan itu pada generasi penerus
sehingga kebudayaan itu tidak musnah dan tetap dapat bertahan.
-
Mencintai budaya sendiri tanpa merendahkan dan
melecehkan budaya orang lain.
-
Menghilangkan perasaan gengsi ataupun malu dengan
kebudayaan yang kita miliki.
7
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Indonesia
memiliki begitu banyak suku, bahasa, budaya, dan penduduk. Bahkan suku Sunda
pun memiliki begitu banyak tarian tradisional yang telah diwariskan dari para
leluhur terdahulu. Dengan banyaknya budaya yang kita miliki seharusnya membuat
kita bangga, dan membuat kita lebih menghargai dan menjaga kelestarian budaya
kita agar tidak hilang mapun direbut bangsa lain.
Budaya
tari suku Sunda tidak hanya tari Jaipong, melankan masi banyak lagi kesenian
yang sebenarnya belum kita ketahui. Untuk mengetahuinya marilah kita melajar
dan mendalami budaya kita lebih dalam lagi.
Setiap
seni memiliki maknanya tersendiri, tidak terkecuali seni tari tradisional. Tarian
tradisional pun memiliki maknanya tersendiri di dalam tetiap gerakannya, gerakannya
pun tidak dibuat dengan asal-asalan melainkan mencari dan memperhatikan sisi
keindahan dan mistiknya agar makna dari tarian tersebut terlihat.
DAFTAR PUSTAKA
·
https://www.tokopedia.com/blog/tarian-tradisional-daerah-jawa-barat/
·
https://gpswisataindonesia.info/2020/07/tarian-tradisional-kabupaten-bandung-barat-jawa-barat/
·
http://repository.maranatha.edu/809/3/0663116_CHAPTER1.pdf
·
https://indonesia.go.id/ragam/seni/seni/sejarah-tari-sunda-dan-riwayat-pak-kayat
·
http://www.ragamseni.com/9-tarian-tradisional-dari-jawa-barat-yang-harus-dipertahankan/
·
http://www.ragamseni.com/9-tarian-tradisional-dari-jawa-barat-yang-harus-dipertahankan/
8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar