Minggu, 29 November 2020

KARYA ILMIAH Seni Gambar Dan Seni Lukis Di Kebudayaan Sunda

 

KARYA ILMIAH

SENI GAMBAR DAN LUKIS

BUDAYA SUNDA

 

 


 


 

 

 

Oleh :

TRIANISA MAYANGSARI

11520060

 

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

DEPOK

TAHUN AJARAN 2020/2021








 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat menyusun tulisan ilmiah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam tulisan ilmiah ini saya akan membahas mengenai budaya tarian lokal yang ada di daerah saya, yaitu sunda.

Tulisan ilmiah ini saya buat dengan berbagai sumber sebagai sumber informasi untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama saya mengerjakan tugas ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan teriimakasih kepada sumber-sumber informasi yang telah membantu saya dalam menyusun karya ilmiah.

Saya juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada tulisan ilmiah ini. Dimohon kemaklumannya, dan semoga tulisan ilmiah ini dapat membantu memberikan manfaat bagi para pembaca maupun saya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tangerang Selatan, 29 November 2020

 

 

 

Trianisa Mayangsari


                                                                         i





DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i

DAFTAR ISI......................................................................................................... ii

BAB I    PENDAHULUAN.................................................................................. 1

1.1  Latar Belakang................................................................................ 1

1.2  Rumusan Masalah........................................................................... 2

1.3  Tujuan Penulisan............................................................................. 2

1.4  Manfaat Penulisan........................................................................... 2

BAB II   PEMBAHASAN..................................................................................... 3

2.1  Perkembangan Batik Di Daerah Sunda........................................ 3

2.2  Corak Batik Di aerah Sunda.......................................................... 4

2.3  Makna Corak-corak Batik Tersebut............................................. 6

BAB III  PENUTUP............................................................................................. 8

1.1.   Kesimpulan.................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 9

 





                                                                                                                                             
ii

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi/akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yaitu mengolah atau mengerjakan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

1        Latar Belakang

Seni tradisional adalah unsur kesenian yan menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/suku tertentu. Seni tradisional yang ada di suatu daerah berbeda dengan dareah yang lainnya, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya kemiripan seni antar daerah yang berdekatan, termasuk seni gambar/lukis. Seni lukis adalah suatu cabang dari seni rupa yang berfokus pada kegiatan melukis. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Seni gambar dan lukis ini termasuk sebagai seni rupa, bisa dua dimensi maupun tiga dimensi.

Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan. Sedangkan lukisan adalah karya seni lukis yang proses pembuatannya dilakukan dengan memulaskan cat dengan alat kuas lukis, pisau palet atau peralatan lain, yaitu memulaskan berbagai warna dan nuansa gradasi warna, dengan kedalaman warna tertentu juga komposisi warna tertentu dari bahan warna pigmen warna dalam pelarut (atau medium) dan gen pengikat (lem) untuk pengencer air, gen pengikat berupa minyak linen untuk cat minyak dengan pengencer terpenthin, pada permukaan (penyangga) seperti kertaskanvas, atau dinding. Manusia telah melukis 6 kali lebih lama dibanding menulis. Sebagai contoh lukisan-lukisan yang berada di goa-goa tempat tinggal manusia prasejarah.

Republik Indonesia memiliki berbagai macam suku, budaya, kesenian, bahasa, kepercayaan, dan adat istiadat. Indonesia terdiri dari 34 provinsi, juga terdiri dari belasan ribu pulau dengan jumlah populasi 260 juta penduduk. Tidak hanya terdapat banyak penduduk, negara kita juga sangat kaya akan kebudayaan dan kearifan lokal di masing-masing daerah, dengan kata lain terdapat banyak sekali suku, budaya, dan adat istiadat. Kebudayaan daerah memiliki berbagai macam bentuk, salah satunya adalah seni tradisional gambar dan lukis.

Sunda pun memiliki beberapa seni rupa gambar dan lukis. Salah satunya adalah batik. Isilah batik Sunda didefinisikan sebagai batik yang memiliki unsur-unsur estetik berupa ragam hias yang terdiri atas bentuk, warna, komposisi, penamaan serta ungkapan-ungkapan sunda dalam artifak budaya sunda yang menyertainya. Batik sunda yang dimaksud disini merupakan batik buatan dari sentra pembatikan lama di wilayah priangan timur sebagai sub kebudayaan priangan, diantaranya Batik Sumedang, Batik Garut, Batik Tasikmalaya, dan Batik Ciamis.

 



                                                            1


2         Rumusan Masalah

1.2.1  Bagaimana perkembangan batik di daerah Sunda?

1.2.2  Bagaiamana corak batik daerah-daerah Sunda?

1.2.3  Apa saja makna dari corak-corak batik tersebut?

 

3        Tujuan Penulisan

1.3.1  Mengetahui perkembangan batik di daerah Sunda.

1.3.2  Mengetahui corak batik daerah-daerah Sunda.

1.3.3  Mengetahui makna dari corak-corak batik tersebut.

Selain itu penulisan karya ilmiah ini tentunya bertujuan  untuk pemenuhan tugas seni budaya saya. Penulisan makalah ini juga bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang seni rupa Tradisional di zaman sekarang, agar karya seni rupa tradisional bisa berkembang dengan baik dan tetap lestari sehingga tidak kalah saing dengan seni rupa modern.

 

4        Manfaat Penulisan

Mendapat banyak ilmu dan pengetahuan baru mengenai seni rupa khususnya di bidang seni lukisan dan gambar yang ada pada batik. Juga membuat generasi mendatang lebih mengenal, memahami makna yang ada di setiap karya, serta tertarik dengan seni tradisional.

 


 


                                                    2


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Perkembangan Batik di Daerah-daerah Sunda

Pada abad ke-20, kegiatan membatik berkembang di Cirebon (Trusmi), Indramayu (Paoman), Ciamis (Cikoneng), Tasikmalaya (Sukaraja, Cihideung, Cipedes), dan Garut (Tarogong); yang masing-masing tempat memiliki corak khas, sehingga timbul sebutan Dermayon, Trusmian, Garutan, dan lain-lain (Rosidi, dkk., 2000). Tetapi dalam perkembangannya, batik-batik ini pun telah meluas dan mewahana ke berbagai bentuk pengertian dalam dimensi pemaknaan, prinsip tujuan, hingga pengaruh kebhinnekaan budaya Indonesia (Anas, dkk., 1997).

Himendra Wargahadibrata di dalam wawancaranya (2011) menyatakan, bahwa Batik Sunda berbeda dengan Batik Jawa. Batik Sunda sifatnya lebih bebas, baik dari pewarnaan dan tidak terikat ‟pakem‟. Dalam pewarnaanya lebih banyak menggunakan pewarna sintetis daripada pewarna tradisional. Secara garis besar, Batik Sunda di wilayah pegunungan di antaranya: Batik Sumedang, Batik Ciamis, Batik Garut/Garutan, dan Batik Tasikmalaya.

Tradisi membatik di daerah Garut muncul pada masa Kolonial Belanda. Keberadaannya diperkirakan selain untuk kalangan sendiri, pada masa itu telah banyak usaha kegiatan kerajinan pribumi yang diekspor melalui VOC. Menurut Anjte Sartika (1988) bahwa kejayaan Batik Garut/Garutan muncul sejak 1949 yang ditandai dengan meningkatnya usaha batik yang dilakukan oleh beberapa keluarga perajin sebagai usaha yang telah dirintis leluhurnya –begitu pula yang dituturkan Nanang Rizali (2010). Hal tersebut dilakukan oleh karena batik pada masa sebelumnya mengalami masa surut ketika terjadi transisi kepemerintahan dari Hindia Belanda, pendudukan Jepang hingga ke Pemerintah Republik Indonesia. Batik Tulis Garutan tumbuh pesat dan bahkan pada tahun 1960 perajinnya mencapai lebih dari 300 unit. Masa cerah ini tidak berlangsung lama oleh karena sejak tahun 1968 teknik printing mulai menanjak di pasaran. Sementara Batik Garut/Garutan masih membatasi dengan teknik tulis, berbentuk kain panjang untuk acara-acara resmi serta harganya relatif mahal. Akibatnya secara perlahan-lahan para perajin tidak sanggup bersaing dengan perajin daerah lainnya (Herayati A., Y., dkk., 1996/1997).

Asal mula adanya Batik Tasikmalaya, yaitu pada saat Pangeran Diponegoro (1825 – 1830) melawan penjajahan, yang menyebabkan masyarakat Jawa Tengah (Jogjakarta) merasa tidak aman, maka ada sejumlah orang dari daerah tidak aman ini yang mengungsi ke Tasikmalaya. Pengungsi dari Jawa Tengah ini yang mulai mengembangkan kain batik. Mulai pembuatan kain hitam yang direndam dalam busukan daun tarum (indigofera). Hingga kini di dekat Tasikmalaya terdapat daerah yang disebut Tarum. Berdasarkan data dari sumber sekunder, kegiatan membatik di Kota Tasikmalaya dimulai sekitar akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Kegiatan membatik di kota ini merupakan akibat tidak langsung dari peperangan di antara kerajaan yang ada di Jawa Tengah.

 

 

 

 



                                                            3



Batik pada era kolonialisasi Belanda dipakai hanya oleh para pembesar di Sumedang, sedangkan rakyat jelata menggunakan kain sarung sebagai pakaian. Hal ini ditegaskan dengan hanya ditemukannya alat tenun kini yang masih tersisa di museum, sedangkan tidak ditemukannya alat untuk membatik, menunjukan Sumedang bukan daerah penghasil batik pada zaman dulu. Tradisi lisan dan cerita babad menjadi inspirasi penciptaan ragam hias di Batik Sumedang.

Sebagian besar perajin Batik Ciamis berasal dari Tasikmalaya. Batik Ciamis termasuk kategori batik yang kurang halus dilihat dari segi kualitas babaran karena dikerjakan dengan sederhana, menggunakan dua warna, dan sedikit sekali menggunakan isen sebagai elemen rupa yang memperlihatkan rincian objek ragam hias. Belakangan pengaruh Batik Pesisiran juga mewarnai Batik Ciamis, seperti tampak pada corak flora dan tatawarnanya yang menggunakan zat pewarna sintetis seperti naphtol dan indigosol.  Pengaruh Batik Keraton ke daerah ini disebabkan kedekatannya dengan kota-kota Purwokerto dan Banyumas yang juga membuat batik yang diilhami Batik Keraton. Selain itu masyarakatnya yang agraris dan statis, menganggap bahwa batik yang asli adalah batik yang diwedel dengan biru dan disoga dengan warna coklat.

 

2.2       Corak Batik di Daerah-daerah Sunda

Corak-corak batik yang ada di daerah sunda masing-masing memiliki kbeberapa kesamaan seperti dalam penamaan bahkan sampai corak dan motifnya. Berikut salah satu corak yang saya ambil dari setiap daerah.

1.     Garut (cupat manggu)

Bentuk dan pola utamanya flora dan geometris. Buah manggu/manggis dengan ciri kode visual yang sudah dikenal masyarakat/urang Sunda. Terdapat bentuk bagian penampang belakang buah manggis yang telah akrab dikenali, yang kemudian diabstraksi (disederhanakan). Karakter penggambaran ragam hias/corak yang merupakan abstraksi (penyederhanaan) dari bentuk yang berasal dari alam, flora; disebabkan sebagian besar masyarakat di Priangan timur adalah tergolong ke dalam masyarakat agraris (petani, bercocok tanam), sehingga menonjolkan ragam hias/corak yang bertema agraris seperti buah manggis.

Cupat Manggu (bertema objek agraris di alam/lingkungan sekitar/naturalis) dengan paduan warna coklat, hijau, dan merah muda. Menggambarkan suasana hati pengantin baru yang berbunga-bunga. Warna hijau muda melambangkan kesegaran dan harapan menyongsong kehidupan baru yang akan ditempuh pasangan pengantin. Bunga putih yang bergaris warna merah muda seolah-olah menghidupkan semerbak mewangi aroma bunga-bunga di taman dan menggambarkan ketulusan cinta sebagai dasar untuk membangun kehidupan rumah tangga yang indah dan mempesona.








                                                   4





2.     Ciamis (kawung kumeli)

Bentuk dan pola utamanya flora dan geometris. Kumeli dengan ciri kode visual yang sudah dikenal masyarakat/urang Sunda. Terdapat bentuk bagian penampang depan buah kumeli (kentang bodas, sok dijieun perkedel, dst.) yang telah akrab dengan masyarakat setempat, yang kemudian diabstraksi (disederhanakan). Karakter penggambaran ragam hias/corak yang merupakan abstraksi (penyederhanaan) dari bentuk yang berasal dari alam, flora; disebabkan sebagian besar masyarakat di Priangan timur adalah tergolong ke dalam masyarakat agraris (petani, bercocok tanam), sehingga menonjolkan ragam hias yang bertema agraris: buah kumeli (kentang bodas, sok dijieun perkedel, dst.).

Ragam hias kumeli dipengaruhi batik kawung yang dibuat dengan sederhana menggunakan warna latar putih dan warna coklat. Batik Kumelian Jawa diartikan sebagai empat bentuk yang mengelilingi pusat. Hal tersebut dapat dijabarkan menjadi empat arah sumber tenaga alam yaitu Timur, arah matahari terbit sumber tenaga segala kehidupan. Barat, arah matahari terbenam atau arah menurunnya keberuntungan. Selatan dihubungkan dengan relief atau puncak segalanya, dan Utara, arah kematian.

 

3.     Tasikmalaya (kurung hayam)

Bentuk dan pola utamanya adalah alam, benda, fauna dan geometris. Kurung hayam, hayam, anak hayam, kukupu, isen-isen: cacing dengan ciri kode visual yang sudah dikenal masyarakat/urang Sunda. Karakter penggambaran ragam hias/corak yang merupakan stilasi (penggayaan) dari bentuk yang berasal dari alam, fauna, dan benda keseharian yang menonjolkan ragam hias/corak yang bertema keseharian seperti kurung hayam. Aktifitas keseharian ini, ikut mempengaruhi penggambaran ragam hias/corak batik dari wilayah Priangan timur. Apa yang mereka lihat di alam, rumah, atau kebun kemudian dituangkan menjadi ragam hias/corak baik dengan cara distilasi (digayakan), yang telah akrab dikenali.

 






                                                    5


 

 

Menggambarkan ayam dan kurungan. Terdapat ornamen yang berbentuk seperti ayam, ceker, dan kurungan ayam. Dipilih ceker ayam karena ceker ini oleh ayam digunakan untuk mengais tanah mencari makanan. Dikenakan pada upacara adat perkawinan dimaksudkan agar pasangan yang menikah dapat mencari nafkah dengan halal sepandai ayam mencari makan dengan cakarnya. Kurungannya sendiri melambangkan kediaman/tempat tinggal yang asri, nyaman dan tentram yang didambakan setiap pasangan.

 

4.     Sumedang (lingga daun)

Bentuk dan pola utmanya adala lingga daun dan nongeometris. Lingga daun dengan ciri kode visual yang sudah dikenal masyarakat/urang Sunda. Terdapat bentuk bagian penampang dedaunan yang telah akrab dikenali, yang kemudian diabstraksi (disederhanakan). Karakter penggambaran ragam hias/corak yang merupakan abstraksi (penyederhanaan) dari bentuk yang berasal dari alam, flora; disebabkan sebagian besar masyarakat di Priangan timur adalah tergolong ke dalam masyarakat agraris (petani, bercocok tanam), sehingga menonjolkan ragam hias/corak yang bertema agraris seperti dedaunan.

Terdapat bentuk bagian penampang daun sampeu, daun taleus, dan lingga daun yang telah akrab dengan masyarakat setempat, yang kemudian diabstraksi (disederhanakan) dari berbagai bentuk yang berasal dari alam. Cara penamaannya dilihat dari gambar yang ada pada ragam hias batik tersebut. Penamaan yang hanya dilihat berdasarkan pembentukan gambarnya, jadi semata-mata bergantung pada gambar/ragam hias apa yang tercantum di dalamnya, yaitu : gambar penampang daun.

 

 

2.3       Makna Dari Corak-corak Batik Tersebut

1.     Cupat manggu

Memiliki makna kekayaan alam, disebabkan sebagian besar masyarakat di Priangan timur adalah tergolong ke dalam masyarakat agraris (petani, bercocok tanam), sehingga menonjolkan ragam hias/corak yang bertema agraris seperti buah manggis.

 

2.     Kawung kumeli

Memiliki empat bentuk yang mengelilingi pusat, hal tersebut dapat dimaknai menjadi empat arah sumber tenaga alam yaitu Timur, arah matahari terbit sumber tenaga segala kehidupan. Barat, arah matahari terbenam atau arah menurunnya keberuntungan. Selatan dihubungkan dengan relief atau puncak segalanya, dan Utara, arah kematian.

 










                                               6





3.     Kurung hayam

Makna simbolis pada corak ayam jantan dikaitkan dengan keberadaan matahari. Saat matahari terbit yang ditandai kokokan ayam jantan, oleh masyarakat pedesaan sebagai tanda bagi umat muslim untuk mendirikan shalat subuh. Selain itu, perlambangan ayam jago juga berkaitan dengan lambang kekuatan, kegagahan dan keberanian. Komposisi bentuk ragam hias ini yaitu ragam hias ayam jantan sebagai ragam hias utama dan ragam hias geometris lain menjadi ragam hias tambahan.

 

4.     Lingga daun

Bermakna sebagai lambang keberhasilan yang dianugrahi oleh pemerintah Belanda atas keberhasilan Kerajaan Sumedang dalam membangun kota dan kesejahtrahan rakyat Sumedang pada masa awal Pemerintahan Raja Suryadiningrat.

 


 




                                                    7




BAB III

PENUTUP

 

3.1       Kesimpulan

Indonesia memiliki begitu banyak suku, bahasa, budaya, dan penduduk. Bahkan di Sunda pun memiliki begitu banyak seni lukis meski yang saya ambil disini di bidang perbatikan, yang telah diwariskan dari para leluhur terdahulu. Dengan banyaknya budaya yang kita miliki seharusnya membuat kita bangga, dan membuat kita lebih menghargai dan menjaga kelestarian budaya kita agar tidak hilang ditelan waktu maupun direbut bangsa lain.

Setiap seni memiliki maknanya sendiri, tidak terkecuali seni gambar dan lukis. Seni gambar dan lukis ini pun memiliki maknanya masing-masing di setiap coraknya, dengan dimasukkan berbagai filosofi bermakna dibaliknya.

 


 





                                                   8





DAFTAR PUSTAKA

·         https://id.wikipedia.org/wiki/Seni_lukis

·         https://www.researchgate.net/publication/333561544_Tapak_Batik_Sunda

·         Anas, B., Hasanudin, Panggabean, R., dan Sunarya, Y. (1997): Indonesia Indah Buku ke-8, Batik, Jakarta : Yayasan Harapan Kita – BP3 Taman Mini Indonesia Indah, Perum Percetakan Negara RI, cetakan I

·         Rosidi, A., Ekadjati, E. S., Djiwapradja, D., Suherman, E., Ayatrohaedi, Abdurrachman, Nano, S., Soepandi, A., dan Sasteradipoera, K. (2000): Ensiklopedi Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya, Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi, Jakarta: Pustaka Jaya, cetakan I

·         Himendra Wargahadibrata (2011) dalam ”Dialog Interaktif Urang Sunda dan Batik Sunda”, Bandung 20-5-2011, Gedung Bank Indonesia Jalan Braga 108

·         Herayati A., Y., dkk. (1996/1997): Laporan Survai Pendidikan dan Kebudayaan di Kabupaten Garut, Bandung: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Barat

·         Susanto, S. (1981): Tinjauan Motif-Motif Batik Berbagai Daerah dan Ragam Hias Dalam Seni Batik











                                                                                           9

 

KARYA ILMIAH MUSIK DAN LAGU DAERAH SUNDA

KARYA ILMIAH MUSIK DAN LAGU DAERAH SUNDA         OLEH : TRIANISA MAYANGSARI (11520060)     FAKULTAS PSIKOLOGI PR...