KARYA
ILMIAH
SENI
GAMBAR DAN LUKIS
BUDAYA
SUNDA
Oleh :
TRIANISA MAYANGSARI
11520060
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
TAHUN AJARAN 2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat
menyusun tulisan ilmiah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam tulisan
ilmiah ini saya akan membahas mengenai budaya tarian lokal yang ada di daerah saya,
yaitu sunda.
Tulisan ilmiah ini saya buat dengan berbagai
sumber sebagai sumber informasi untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan
selama saya mengerjakan tugas ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan
teriimakasih kepada sumber-sumber informasi yang telah membantu saya dalam
menyusun karya ilmiah.
Saya juga menyadari bahwa masih banyak
kekurangan yang mendasar pada tulisan ilmiah ini. Dimohon kemaklumannya, dan
semoga tulisan ilmiah ini dapat membantu memberikan manfaat bagi para pembaca
maupun saya.
Tangerang Selatan, 29 November 2020
Trianisa Mayangsari
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR..........................................................................................
i
DAFTAR
ISI.........................................................................................................
ii
BAB
I
PENDAHULUAN..................................................................................
1
1.1 Latar Belakang................................................................................
1
1.2 Rumusan
Masalah...........................................................................
2
1.3 Tujuan
Penulisan.............................................................................
2
1.4 Manfaat Penulisan...........................................................................
2
BAB
II
PEMBAHASAN.....................................................................................
3
2.1 Perkembangan Batik Di Daerah Sunda........................................
3
2.2 Corak Batik Di aerah Sunda..........................................................
4
2.3 Makna Corak-corak Batik Tersebut.............................................
6
BAB
III
PENUTUP............................................................................................. 8
1.1. Kesimpulan.................................................................................... 8
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................... 9
BAB
I
PENDAHULUAN
Budaya
atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi/akal) diartikan sebagai hal-hal
yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut
culture, yaitu mengolah atau mengerjakan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
1
Latar Belakang
Seni
tradisional adalah unsur kesenian yan menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu
kaum/suku tertentu. Seni tradisional yang ada di suatu daerah berbeda dengan
dareah yang lainnya, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya kemiripan seni
antar daerah yang berdekatan, termasuk seni gambar/lukis. Seni lukis adalah
suatu cabang dari seni rupa yang berfokus pada kegiatan melukis. Dengan dasar pengertian
yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.
Seni gambar dan lukis ini termasuk sebagai seni rupa, bisa dua dimensi maupun
tiga dimensi.
Melukis adalah kegiatan mengolah medium
dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan
tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas,
kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang
digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan. Sedangkan
lukisan adalah karya seni lukis yang proses pembuatannya dilakukan dengan
memulaskan cat dengan alat kuas lukis, pisau palet atau peralatan lain, yaitu
memulaskan berbagai warna dan nuansa gradasi warna, dengan kedalaman warna
tertentu juga komposisi warna tertentu dari bahan warna pigmen warna dalam pelarut (atau medium) dan gen pengikat (lem) untuk pengencer air, gen pengikat berupa minyak
linen untuk cat minyak dengan pengencer terpenthin, pada permukaan (penyangga)
seperti kertas, kanvas, atau dinding. Manusia telah melukis 6 kali lebih
lama dibanding menulis. Sebagai contoh lukisan-lukisan yang berada di goa-goa tempat
tinggal manusia prasejarah.
Republik Indonesia memiliki
berbagai macam suku, budaya, kesenian, bahasa, kepercayaan, dan adat istiadat. Indonesia
terdiri dari 34 provinsi, juga terdiri dari belasan ribu pulau dengan jumlah
populasi 260 juta penduduk. Tidak hanya terdapat banyak penduduk, negara kita
juga sangat kaya akan kebudayaan dan kearifan lokal di masing-masing daerah, dengan
kata lain terdapat banyak sekali suku, budaya, dan adat istiadat. Kebudayaan
daerah memiliki berbagai macam bentuk, salah satunya adalah seni tradisional
gambar dan lukis.
Sunda pun memiliki beberapa
seni rupa gambar dan lukis. Salah satunya adalah batik. Isilah batik Sunda
didefinisikan sebagai batik yang memiliki unsur-unsur estetik berupa ragam hias
yang terdiri atas bentuk, warna, komposisi, penamaan serta ungkapan-ungkapan
sunda dalam artifak budaya sunda yang menyertainya. Batik sunda yang dimaksud
disini merupakan batik buatan dari sentra pembatikan lama di wilayah priangan
timur sebagai sub kebudayaan priangan, diantaranya Batik Sumedang, Batik Garut,
Batik Tasikmalaya, dan Batik Ciamis.
2
Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana
perkembangan batik di daerah Sunda?
1.2.2 Bagaiamana
corak batik daerah-daerah Sunda?
1.2.3 Apa
saja makna dari corak-corak batik tersebut?
3
Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui
perkembangan batik di daerah Sunda.
1.3.2 Mengetahui
corak batik daerah-daerah Sunda.
1.3.3 Mengetahui makna
dari corak-corak batik tersebut.
Selain itu penulisan karya
ilmiah ini tentunya bertujuan untuk pemenuhan tugas seni budaya saya. Penulisan
makalah ini juga bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang seni rupa Tradisional
di zaman sekarang, agar karya seni rupa tradisional bisa berkembang dengan baik
dan tetap lestari sehingga tidak kalah saing dengan seni rupa modern.
4
Manfaat Penulisan
Mendapat banyak ilmu dan pengetahuan baru
mengenai seni rupa khususnya di bidang seni lukisan dan gambar yang ada pada
batik. Juga membuat generasi mendatang lebih mengenal, memahami makna yang ada
di setiap karya, serta tertarik dengan seni tradisional.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan
Batik di Daerah-daerah Sunda
Pada
abad ke-20, kegiatan membatik berkembang di Cirebon (Trusmi), Indramayu
(Paoman), Ciamis (Cikoneng), Tasikmalaya (Sukaraja, Cihideung, Cipedes), dan
Garut (Tarogong); yang masing-masing tempat memiliki corak khas, sehingga
timbul sebutan Dermayon, Trusmian, Garutan, dan lain-lain (Rosidi, dkk., 2000).
Tetapi dalam perkembangannya, batik-batik ini pun telah meluas dan mewahana ke
berbagai bentuk pengertian dalam dimensi pemaknaan, prinsip tujuan, hingga
pengaruh kebhinnekaan budaya Indonesia (Anas, dkk., 1997).
Himendra
Wargahadibrata di dalam wawancaranya (2011) menyatakan, bahwa Batik Sunda
berbeda dengan Batik Jawa. Batik Sunda sifatnya lebih bebas, baik dari
pewarnaan dan tidak terikat ‟pakem‟. Dalam pewarnaanya lebih banyak menggunakan
pewarna sintetis daripada pewarna tradisional. Secara garis besar, Batik Sunda
di wilayah pegunungan di antaranya: Batik Sumedang, Batik Ciamis, Batik
Garut/Garutan, dan Batik Tasikmalaya.
Tradisi
membatik di daerah Garut muncul pada masa Kolonial Belanda. Keberadaannya
diperkirakan selain untuk kalangan sendiri, pada masa itu telah banyak usaha
kegiatan kerajinan pribumi yang diekspor melalui VOC. Menurut Anjte Sartika
(1988) bahwa kejayaan Batik Garut/Garutan muncul sejak 1949 yang ditandai
dengan meningkatnya usaha batik yang dilakukan oleh beberapa keluarga perajin
sebagai usaha yang telah dirintis leluhurnya –begitu pula yang dituturkan
Nanang Rizali (2010). Hal tersebut dilakukan oleh karena batik pada masa
sebelumnya mengalami masa surut ketika terjadi transisi kepemerintahan dari
Hindia Belanda, pendudukan Jepang hingga ke Pemerintah Republik Indonesia.
Batik Tulis Garutan tumbuh pesat dan bahkan pada tahun 1960 perajinnya mencapai
lebih dari 300 unit. Masa cerah ini tidak berlangsung lama oleh karena sejak
tahun 1968 teknik printing mulai menanjak di pasaran. Sementara Batik
Garut/Garutan masih membatasi dengan teknik tulis, berbentuk kain panjang untuk
acara-acara resmi serta harganya relatif mahal. Akibatnya secara perlahan-lahan
para perajin tidak sanggup bersaing dengan perajin daerah lainnya (Herayati A.,
Y., dkk., 1996/1997).
Asal
mula adanya Batik Tasikmalaya, yaitu pada saat Pangeran Diponegoro (1825 –
1830) melawan penjajahan, yang menyebabkan masyarakat Jawa Tengah (Jogjakarta)
merasa tidak aman, maka ada sejumlah orang dari daerah tidak aman ini yang
mengungsi ke Tasikmalaya. Pengungsi dari Jawa Tengah ini yang mulai mengembangkan
kain batik. Mulai pembuatan kain hitam yang direndam dalam busukan daun tarum
(indigofera). Hingga kini di dekat Tasikmalaya terdapat daerah yang disebut
Tarum. Berdasarkan data dari sumber sekunder, kegiatan membatik di Kota
Tasikmalaya dimulai sekitar akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Kegiatan
membatik di kota ini merupakan akibat tidak langsung dari peperangan di antara
kerajaan yang ada di Jawa Tengah.
Batik
pada era kolonialisasi Belanda dipakai hanya oleh para pembesar di Sumedang,
sedangkan rakyat jelata menggunakan kain sarung sebagai pakaian. Hal ini
ditegaskan dengan hanya ditemukannya alat tenun kini yang masih tersisa di
museum, sedangkan tidak ditemukannya alat untuk membatik, menunjukan Sumedang bukan
daerah penghasil batik pada zaman dulu. Tradisi lisan dan cerita babad menjadi
inspirasi penciptaan ragam hias di Batik Sumedang.
Sebagian
besar perajin Batik Ciamis berasal dari Tasikmalaya. Batik Ciamis termasuk
kategori batik yang kurang halus dilihat dari segi kualitas babaran karena
dikerjakan dengan sederhana, menggunakan dua warna, dan sedikit sekali
menggunakan isen sebagai elemen rupa yang memperlihatkan rincian objek ragam
hias. Belakangan pengaruh Batik Pesisiran juga mewarnai Batik Ciamis, seperti
tampak pada corak flora dan tatawarnanya yang menggunakan zat pewarna sintetis
seperti naphtol dan indigosol. Pengaruh Batik Keraton ke daerah ini
disebabkan kedekatannya dengan kota-kota Purwokerto dan Banyumas yang juga
membuat batik yang diilhami Batik Keraton. Selain itu masyarakatnya yang
agraris dan statis, menganggap bahwa batik yang asli adalah batik yang diwedel
dengan biru dan disoga dengan warna coklat.
2.2 Corak
Batik di Daerah-daerah Sunda
Corak-corak
batik yang ada di daerah sunda masing-masing memiliki kbeberapa kesamaan
seperti dalam penamaan bahkan sampai corak dan motifnya. Berikut salah satu
corak yang saya ambil dari setiap daerah.
1. Garut
(cupat manggu)
Bentuk
dan pola utamanya flora dan geometris. Buah manggu/manggis dengan ciri kode
visual yang sudah dikenal masyarakat/urang Sunda. Terdapat bentuk bagian
penampang belakang buah manggis yang telah akrab dikenali, yang kemudian
diabstraksi (disederhanakan). Karakter penggambaran ragam hias/corak yang
merupakan abstraksi (penyederhanaan) dari bentuk yang berasal dari alam, flora;
disebabkan sebagian besar masyarakat di Priangan timur adalah tergolong ke
dalam masyarakat agraris (petani, bercocok tanam), sehingga menonjolkan ragam
hias/corak yang bertema agraris seperti buah manggis.
Cupat
Manggu (bertema objek agraris di alam/lingkungan sekitar/naturalis) dengan
paduan warna coklat, hijau, dan merah muda. Menggambarkan suasana hati
pengantin baru yang berbunga-bunga. Warna hijau muda melambangkan kesegaran dan
harapan menyongsong kehidupan baru yang akan ditempuh pasangan pengantin. Bunga
putih yang bergaris warna merah muda seolah-olah menghidupkan semerbak mewangi
aroma bunga-bunga di taman dan menggambarkan ketulusan cinta sebagai dasar
untuk membangun kehidupan rumah tangga yang indah dan mempesona.
4
2. Ciamis
(kawung kumeli)
Bentuk
dan pola utamanya flora dan geometris. Kumeli dengan ciri kode visual yang
sudah dikenal masyarakat/urang Sunda. Terdapat bentuk bagian penampang
depan buah kumeli (kentang bodas, sok dijieun perkedel, dst.) yang telah
akrab dengan masyarakat setempat, yang kemudian diabstraksi (disederhanakan). Karakter penggambaran ragam hias/corak
yang merupakan abstraksi (penyederhanaan) dari bentuk yang berasal dari alam,
flora; disebabkan sebagian besar masyarakat di Priangan timur adalah tergolong
ke dalam masyarakat agraris (petani, bercocok tanam), sehingga menonjolkan
ragam hias yang bertema agraris: buah kumeli (kentang bodas, sok dijieun
perkedel, dst.).
Ragam
hias kumeli dipengaruhi batik kawung yang dibuat dengan sederhana menggunakan
warna latar putih dan warna coklat. Batik Kumelian Jawa diartikan sebagai empat
bentuk yang mengelilingi pusat. Hal tersebut dapat dijabarkan menjadi empat
arah sumber tenaga alam yaitu Timur, arah matahari terbit sumber tenaga segala
kehidupan. Barat, arah matahari terbenam atau arah menurunnya keberuntungan.
Selatan dihubungkan dengan relief atau puncak segalanya, dan Utara, arah
kematian.
3. Tasikmalaya
(kurung hayam)
Bentuk dan pola utamanya
adalah alam, benda, fauna dan geometris. Kurung
hayam, hayam, anak hayam, kukupu, isen-isen: cacing dengan ciri kode visual
yang sudah dikenal masyarakat/urang Sunda. Karakter penggambaran ragam
hias/corak yang merupakan stilasi (penggayaan) dari bentuk yang berasal dari alam,
fauna, dan benda keseharian yang menonjolkan ragam hias/corak yang bertema
keseharian seperti kurung hayam. Aktifitas keseharian ini, ikut mempengaruhi
penggambaran ragam hias/corak batik dari wilayah Priangan timur. Apa yang
mereka lihat di alam, rumah, atau kebun kemudian dituangkan menjadi ragam
hias/corak baik dengan cara distilasi (digayakan), yang telah akrab dikenali.
5
Menggambarkan
ayam dan kurungan. Terdapat ornamen yang berbentuk seperti ayam, ceker, dan
kurungan ayam. Dipilih ceker ayam karena ceker ini oleh ayam digunakan untuk
mengais tanah mencari makanan. Dikenakan pada upacara adat perkawinan
dimaksudkan agar pasangan yang menikah dapat mencari nafkah dengan halal
sepandai ayam mencari makan dengan cakarnya. Kurungannya sendiri melambangkan
kediaman/tempat tinggal yang asri, nyaman dan tentram yang didambakan setiap
pasangan.
4. Sumedang
(lingga daun)
Bentuk dan pola utmanya adala
lingga daun dan nongeometris. Lingga daun dengan ciri kode visual yang sudah dikenal
masyarakat/urang Sunda. Terdapat bentuk bagian penampang dedaunan yang
telah akrab dikenali, yang kemudian diabstraksi (disederhanakan). Karakter penggambaran ragam hias/corak yang merupakan
abstraksi (penyederhanaan) dari bentuk yang berasal dari alam, flora;
disebabkan sebagian besar masyarakat di Priangan timur adalah tergolong ke
dalam masyarakat agraris (petani, bercocok tanam), sehingga menonjolkan ragam
hias/corak yang bertema agraris seperti dedaunan.
Terdapat
bentuk bagian penampang daun sampeu, daun taleus, dan lingga daun yang telah
akrab dengan masyarakat setempat, yang kemudian diabstraksi (disederhanakan)
dari berbagai bentuk yang berasal dari alam. Cara penamaannya dilihat dari
gambar yang ada pada ragam hias batik tersebut. Penamaan yang hanya dilihat
berdasarkan pembentukan gambarnya, jadi semata-mata bergantung pada
gambar/ragam hias apa yang tercantum di dalamnya, yaitu : gambar penampang daun.
2.3
Makna Dari Corak-corak Batik Tersebut
1. Cupat
manggu
Memiliki
makna kekayaan alam, disebabkan sebagian besar masyarakat di Priangan timur
adalah tergolong ke dalam masyarakat agraris (petani, bercocok tanam), sehingga
menonjolkan ragam hias/corak yang bertema agraris seperti buah manggis.
2. Kawung
kumeli
Memiliki
empat bentuk yang mengelilingi pusat, hal tersebut dapat dimaknai menjadi empat arah sumber tenaga
alam yaitu Timur, arah matahari terbit sumber tenaga segala kehidupan. Barat,
arah matahari terbenam atau arah menurunnya keberuntungan. Selatan dihubungkan
dengan relief atau puncak segalanya, dan Utara, arah kematian.
6
3. Kurung
hayam
Makna
simbolis pada corak ayam jantan dikaitkan dengan keberadaan matahari. Saat
matahari terbit yang ditandai kokokan ayam jantan, oleh masyarakat pedesaan
sebagai tanda bagi umat muslim untuk mendirikan shalat subuh. Selain itu,
perlambangan ayam jago juga berkaitan dengan lambang kekuatan, kegagahan dan
keberanian. Komposisi bentuk ragam hias ini yaitu ragam hias ayam jantan
sebagai ragam hias utama dan ragam hias geometris lain menjadi ragam hias
tambahan.
4. Lingga
daun
Bermakna sebagai lambang
keberhasilan yang dianugrahi oleh pemerintah Belanda atas keberhasilan Kerajaan
Sumedang dalam membangun kota dan kesejahtrahan rakyat Sumedang pada masa awal
Pemerintahan Raja Suryadiningrat.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Indonesia memiliki begitu
banyak suku, bahasa, budaya, dan penduduk. Bahkan di Sunda pun memiliki begitu
banyak seni lukis meski yang saya ambil disini di bidang perbatikan, yang telah
diwariskan dari para leluhur terdahulu. Dengan banyaknya budaya yang kita
miliki seharusnya membuat kita bangga, dan membuat kita lebih menghargai dan
menjaga kelestarian budaya kita agar tidak hilang ditelan waktu maupun direbut
bangsa lain.
Setiap seni memiliki
maknanya sendiri, tidak terkecuali seni gambar dan lukis. Seni gambar dan lukis
ini pun memiliki maknanya masing-masing di setiap coraknya, dengan dimasukkan
berbagai filosofi bermakna dibaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
·
https://id.wikipedia.org/wiki/Seni_lukis
·
https://www.researchgate.net/publication/333561544_Tapak_Batik_Sunda
·
Anas, B., Hasanudin, Panggabean, R., dan Sunarya, Y.
(1997): Indonesia Indah Buku ke-8, Batik, Jakarta : Yayasan Harapan
Kita – BP3 Taman Mini Indonesia Indah, Perum Percetakan Negara RI, cetakan I
·
Rosidi, A., Ekadjati, E. S., Djiwapradja, D., Suherman, E.,
Ayatrohaedi, Abdurrachman, Nano, S., Soepandi, A., dan Sasteradipoera, K.
(2000): Ensiklopedi Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya, Termasuk Budaya
Cirebon dan Betawi, Jakarta: Pustaka Jaya, cetakan I
·
Himendra Wargahadibrata (2011) dalam ”Dialog Interaktif
Urang Sunda dan Batik Sunda”, Bandung 20-5-2011, Gedung Bank Indonesia Jalan
Braga 108
·
Herayati A., Y., dkk. (1996/1997): Laporan Survai
Pendidikan dan Kebudayaan di Kabupaten Garut, Bandung: Bagian Proyek
Pembinaan Permuseuman Jawa Barat
·
Susanto, S. (1981): Tinjauan Motif-Motif Batik Berbagai
Daerah dan Ragam Hias Dalam Seni Batik
9